Senin, 09 Juni 2014

ARTIKEL 3: BENTUK – BENTUK UTAMA DALAM TERAPI




ARTIKEL 3: BENTUK – BENTUK UTAMA DALAM  TERAPI



Pada awalnya, Wohlberg (dalam Gunarsa, 1992) mengatakan bahwa konseling yang berhubungan dengan tujuan  yaitu untuk memberikan support atau dukungan (supportive) dan mendidik kembali (reeducation), sedangkan psikoterapi bertujuan untuk merekonstruktif kepribadian seseorang (reconstructive)

Berdasarkan ketiga tujuan tersebut, ternyata masing – masing memiliki bentuk – bentuk terapi yang dibagi ke dalam tiga terapi sesuai dengan tujuan dari terapi tersebut, yaitu yang pertama terapi supportive, kedua terapi reeducative, dan yang terakhir adalah terapi reconstructive. Berikut penjelasan mengenai ketiga terapi tersebut: 

  • Terapi Supportive adalah suatu bentuk terapi alternatif yang mempunyai tujuan untuk menolong pasien beradaptasi dengan baik terhadap suatu masalah yang dihadapi dan untuk mendapatkan suatu kenyamanan hidup terhadap gangguan psikisnya. Psikoterapi supportive (supresif atau non spesifik). Tujuan psikoterapi jenis ini ialah menguatkan daya tahan mental yang dimilikinya sehingga lebih bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Lalu seperti yang dikatakan oleh (Maramis, 2005) psikoterapi ini juga berfungsi untuk mengembangkan mekanisme daya tahan mental yang baru dan yang lebih baik untuk mempertahankan fungsi pengontrolan diri. Sedangkan menurut Anonym tahun 2001, supportive meningkatkan kemampuan adaptasi lingkungan. Supportive Therapy dibagi kedalam beberapa bentuk, antara lain adalah Ventilasi yaitu suatu bentuk psikoterapi supportive yang memberi kesempatan seluas-luasnya kepada pasien untuk mengemukakan isi hatinya dan sebagai hasilnya ia akan merasa lega serta keluhannya akan berkurang. Selain ventilasi, ada juga persuasi yaitu suatu bentuk psikoterapi suportif yang dilakukan dengan menerangkan secara masuk akal tentang gejala-gejala penyakitnya yang timbul akibat cara berpikir, perasaan, dan sikapnya terhadap masalah yang dihadapinya. Selanjutnya ada Reassurance yaitu suatu bentuk psikoterapi supportive yang berusaha meyakinkan kembali kemampuan pasien bahwa ia sanggup mengatasi masalah yang dihadapinya. Lalu ada Sugestive yaitu suatu bentuk psikoterapi supportive yang berusaha menanamkan kepercayaan pada pasien bahwa gejala-gejala gangguannya akan hilang. Sedangkan bimbingan juga termasuk kedalam psikoterapi ini yang diartikan sebagai suatu bentuk yang memberi nasihat dengan penuh wibawa dan pengertian. Terakhir yang tergolong dalam psikoterapi ini adalah penyuluhan (membantu pasien mengerti dirinya sendiri secara lebih baik agar ia dapat mengatasi permasalahannya dan dapat menyesuaikan diri).
  • Terapi Reeducative adalah mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya lebih banyak di alam sadar, dengan usaha berencana untuk menyesuaikan diri., memodifikasikan tujuan dan membangkitkan serta mempergunakan potensi kreatif yang ada. Cara-cara psikoterapi reedukatif antara lain adalah terapi hubungan antar manusia (relationship therapy), terapi sikap (attitude therapy), terapi wawancara (interview therapy) analisa dan sinthesa yang distributif (terapi psikobiologik Adolf Meyer), Konseling terapetik, Terapi case work, Reconditioning, Terapi kelompok yang reedukatik, dan terakhir Terapi somatik
  • Reconstructive therapy adalah terapi yang menyelami alam tak sadar melalui teknik seperti asosiasi bebas, interpretasi mimpi, analisa daripada transfersi. Tujuannya adalah untuk merubah kepribadian sehingga tak hanya tercapai suatu penyesuaian diri yang lebih efisien, akan tetapi juga suatu maturasi daripada perkembangan emosional dengan dilahirkannya potensi adaptif baru. Cara-cara psikoterapi rekonstruktif antara lain dengan Psikoanalisa freud dan Psikoanalisa non freud psikoterapi yang berorientasi kepada psikoanalisa dengan cara: asosiasi bebas, analisis mimpi, hipoanalisa/sintesa, narkoterapi, terapi main, terapi kelompok analitik. Beberapa jenis psikoterapi suportif semua dokter kiranya harus dapat melakukan psikoterapi suportif jenis katarsis, persuasi, sugesti, penjaminan kembali, bimbingan dan penyuluhan (konseling) kembali memodifikasi tujuan dan membangkitkan serta mempergunakan potensi kreatif yang ada.

Daftar Pustaka:
Elvira SD. (2005). Kumpulan makalah psikoterapi. Depok: Balai Penerbit FKUI.
Gunarsa, Singgih D. (1992). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia.
Mappiare, Andi. 1992. Pengantar konseling dan psikoterapi. Jakarta: PT Raja Grafindo
Semiun. Yustinus. 2006. Kesehatan Mental. Yogyakarta. Kanisius

ARTIKEL 2: PERBEDAAN ANTARA KONSELING DENGAN PSIKOTERAPI




ARTIKEL 2: PERBEDAAN ANTARA KONSELING DENGAN PSIKOTERAPI

 


Konseling dan psikoterapi merupakan teknik intervensi yang saling menyerupai satu sama lain. Tetapi pada dasarnya kedua hal tersebut memiliki beberapa perbedaan mendasar yang membedakan satu sama lain.

Berdasarkan definisinya, Konseling merupakan proses wawancara tatap muka antara dua orang (konselor dan klien) yang bertujuan untuk memberikan bantuan kepada klien, sehingga klien dapat memecahkan masalahnya dan lebih berkembang dalam kehidupan sekarang dan masa depannya. Konseling lebih berpusat pandang masa kini dan masa yang akan datang melihat dunia klien. Klien tidak dianggap sakit mental dan hubungan antara konselor dan klien itu sebagai teman yaitu mereka bersama-sama melakukan usaha untuk tujuan – tujuan tertentu, terutama bagi orang yang ditangani tersebut. Konselor mempunyai nilai-nilai dan sebagainya, tetapi tidak akan memaksakannya kepada individu yang dibantunya konseling berpusat pada pengubahan tingkah laku, teknik – teknik yang dipakai lebih bersifat manusiawi. Konselor bekerja dengan individu yang normal yang sedang mengalami masalah.

Sedangkan definisi Psikoterapi adalah suatu interaksi sistematis antara pasien dan terapis yang menggunakan prinsip-psinsip psikologis untuk membantu menghasilkan perubahan dalam tingkah laku, pikiran dan perasaan klien supaya membantu klien mengatasi tingkah laku abnormal dan memecahkan masalah-masalah dalam hidup atau berkembang sebagai seorang individu. Psikoterapi lebih berpusat pada pndangan masa yang lalu dan melihat masa kini individu, klien dianggap sakit mental. Klien dianggap sebagai orang sakit dan ahli psikoterapi (terapis) tidak akan pernah meminta orang yang ditolongnya itu untuk membantu merumuskan tujuan-tujuan, terapis berusaha memaksakan nilai-nilai dan sebagainya itu kepada orang yang ditolongnya. Psikoterapis berpusat pada usaha pengobatan teknik-teknik yang dipakai adalah yang telah diresepkan, terapi bekerja dengan “dunia dalam” dari kehidupan individu yang sedang mengalami masalah berat, psikologi dalam memegang peranan.

Wolberg (1954) merumuskan psikoterapi sebagai suatu bentuk perawatan (perlakuan atau treatment) terhadap masalah yang timbul yang asalnya dari faktor emosi pda mana seorang yang terlatih, dengan terencana mengadakan hubungan profesional dengan pasien dengan tujuan memindahkan, mengubah suatu simtom, dan mencegah simtom tersebut tidak muncul pada individu yang terganggu pola perilakunya, untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang lebih positif.

Eysenck (dalam Gunarsa, 1992), merumuskan psikoterapi dalam beberapa ciri, yakni:
1.   Hubungan antar perorangan yang berlangsung lama
2.  Melibatkan seseorang yang terlatih
3.  Adanya ketidakpuasan pada diri klien tentang sesuatu yang emosional atau penyesuaian diri.
4.  Pemakaian metode psikologi
5.  Aktivitas yang mendasarkan pada teori tentang kelainan mental
6.  Melalui hubungan yang dilakukan, bertujuan memperbaiki ketidakpuasannya terhadap diri sendiri.
untuk memahami berbagai hal lain yang berkaitan dengan psikoterapi dan konseling maka berikut adalah ulasan pembahasan untuk membedakannya, yaitu:

Perbedaan Berdasarkan Tujuan
Konseling bertujuan membantu seseorang dalam menghadapi tugas-tugas perkembangan. Menurut Hahn & MacLean (dalam Gunarsa, 1992), mengemukakan mengenai tujuan konseling yakni menitikberatkan pada upaya pencegahan agar penyimpangan yang merusak dirinya tidak timbul sedangkan psikoterapi terlebih dahulu menangani penyimpangan yang merusak dan baru kemudian menangani usaha pencegahannya. Mowrer (dalam Gunarsa, 1992) mengatakan bahwa konseling berhubungan dengan usaha membatasi klien yang mengalami gangguan kecemasan biasa (normal anxiety). Sedangkan psikoterapi berusaha menyembuhkan klien atau pasien yang menderita neurosis – kecemasan (neurotic anxiety).

Tyler (dalam Gunarsa, 1992) mengungkapkan bahwa konseling berkaitan dengan proses bantuan untuk klien dengan menumbuhkan identitas, sedangkan psikoterapi melakukan perubahan pada struktur dasar perkembangan; konseling berkaitan dengan penggunaan sumber yang ada, sebaliknya psikoterapi berkaitan dengan perubahan kepribadian. Tyler (dalam Gunarsa, 1992) pun menambahkan keterangan mengenai perbedaan konseling dan psikoterapi yaitu konseling mengatasi masalah – masalah yang muncul karena perannya yang ada, sedangkan psikoterapi berhubungan dengan konflik yang ada dalam diri seseorang (intrapersonal). Blocher (dalam Gunarsa, 1992) membedakan konseling dan psikoterapi secara singkat yaitu: 

  • Pada konseling: developmentaleducativepreventive. 
  • Pada psikoterapi: remediativeadjustivetherapeutic.


Perbedaan antara Klien – Konselor dengan Klien (Pasien) - Psikoterapis
Secara tradisional, cara menemukan perbedaan pada bidang konseling dan psikoterapi melalui klien yang dihadapi sangatlah mudah. Jika pada konseling, konselor menghadapi klien yang normal, sebaliknya pada psikoterapi, psikoterapis menghadapi klien (pasien) yang mengalami neurosis atau psikosis.

Konselor dan psikoterapis pada umumnya memiliki latar belakang yang berbeda, namun ada kesamaan pada subjek tertentu yang harus dipelajari dan dilatih. Blocher (dalam Gunarsa, 1992) mengemukakan ciri – cirinya untuk membedakan antara konseling dan psikoterapi yaitu klien yang menjalani konseling tidak digolongkan sebagai penderita penyakit jiwa, tapi sebagai orang yang mampu memilih tujuan, keputusan, dan bertanggung jawab terhadap perbuatannya, sedangkan klien (pasien) yang dihadapi psikoterapis berbanding terbalik dengan konselor;  Konseling dipusatkan pada keadaan sekarang dan yang akan datang. Sedangkan psikoterapi berlawanan dengan konseling. Klien adalah klien dan bukan pasien. Maka konselor tidaklah netral secara moral atau tidak bermoral, melainkan memiliki nilai, perasaan, dan norma sendiri, sedangkan psikoterapis berbanding terbalik dengan konselor dan klien danggap sebagai pasien; Konselor memusatkan pada perubahan perilaku,tidak hanya menumbuhkan pengertian, sedangkan psikoterapis melakukan hal sebaliknya jika dibandingkan dengan konselor.

Perbedaan Berdasarkan pada Metode yang Digunakan
Stefflre & Grant (dalam Gunarsa 1992) membedakan konseling dengan psikoterapi yaitu dengan, konseling memiliki jangka waktu yang lebih singkat; lebih sedikit waktu pertemuannya; Lebih banyak melakukan evaluasi psikologis; lebih memperhatikan masalah sehari – hari klien; lebih memfokuskan pada aktivitas kesadarn; lebih memberikan nasihat, kurang berhubungan dengan transferens; lebih menekankan pada situasi yang riil, lebih kognitif dan berkurang intensitas emosi; lebih menjelaskan atau menerangkan dan lebih sedikit kekaburannya. Hal – hal tersebut yang terkait dengan konseling sangat berbeda jika dibandingkan dengan psikoterapi. Brammer & Shostroom (dalam Gunarsa, 1992) mengemukakan bahwa: 

  • Konseling ditandai oleh adanya terminologi, “educational, vocational; supportive, situational, problem solving; conscious awareness, normal, present time, dan short time”.  
  • Psikoterapi ditandai dengan “supportive (dalam keadaan krisis) reconstructive; depth emphasis, analytical, focus on the past, neurotics and other severe emotional problems and long – term”.  


Kesimpulan:
Perbedaan konseling dan psikoterapi yang disimpulkan oleh Pallone dan Patterson (dalam Gunarsa, 1992) yaitu:

  • konseling untuk klien, Gangguan yang kurang serius, Masalah jabatan, pendidikan, Berhubungan dengan pencegahan, Lingkungan pendidikan dan non medis, Berhubungan dengan kesadaran, dan Metode pendidikan. 
  • Psikoterapi untuk Pasien, Gangguan yang serius, Masalah kepribadian dan pengambilan keputusan, Berhubungan dengan penyembuhan, Lingkungan medis, Berhubungan dengan ketidaksadaran.


Sumber bacaan:
Gunarsa, Singgih D. (1992). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia.